11
Jan
09

Efektifitas Kinerja PR dalam kampanye Parpol di Media Massa

Secara umum dapat dikatakan bahwa partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita- cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik. Dan untuk mewujudkan hal itu partai- partai politik yang ada di Indonesia berlomba- lomba untuk mencari massa.

Hal tersebut dialami Indonesia pada saat Indonesia memasuki tonggak sejarah baru dalam berdemokrasi pada tahun 2004 silam. Untuk pertama kalinya seorang presiden dipilih secara langsung oleh rakyat. Pertama kali pula calon presiden berkampanye guna meminta dukungan rakyat. Proses komunikasi politik yang amat penting ini sudah mulai dijalankan oleh para kandidat bersama tim sukses masing-masing. Hal tersebut akan berlangsung kedepannya, oleh karena itu rakyat sebagai pemegang kedaulatan harus didekati dengan strategi komunikasi yang tepat. Tak heran jika para ahli komunikasi mulai banyak direkrut atau dikontrak untuk menyukseskan partai politik dan calon presiden.

Beberapa parpol memiliki strategi masing-masing untuk meraup suara sebanyak-banyaknya. Mereka mempengaruhi kita dalam memandang realitas kemasyarakatan, bahkan realitas kenegaraan. Misi partai mempengaruhi cara kita bergaul dan topik- topik yang kita bicarakan. Sejumlah parpol mencoba merangkul publik figur mulai dari artis sampai kiai kondang. Tapi beberapa partai yang lain, mencoba lebih rasional dengan mengedepankan program-program pembangunan yang diharapkan bisa mengentaskan bangsa ini dari keterpurukannya yang telah berlangsung lama. Walaupun, program-program yang dijanjikan tak jarang juga masih tampak sebagai sekedar sebuah janji, karena rasanya agak sulit direalisasikan menjadi sebuah bukti.

Hampir sebagian besar orang dewasa menyatakan bahwa mereka mendapatkan hampir seluruh informasi tentang berbagai peristiwa dunia maupun nasional dari media massa. Begitu pula dengan berita politik, mereka juga sebagian besar mendapatkan informasinya dari media massa. Media massa telah merubah wajah seluruh sistem politik secara luas dengan pesat. Media massa mempengaruhi publik dengan fokus tayangan, para pengurus parpol biasanya manarik massa dengan menggalang kekuatan media massa baik TV, radio, media cetak, internet maupun SMS. Karena kemampuan media untuk menjangkau masyarakat dalam lingkup yang nyaris tak terbatas, bisa menjadi senjata ampuh untuk mensosialisasikan program partai. Apalagi, media massa juga punya kekuatan untuk mengarahkan opini publik. Media umum yang lazim digunakan dalam berkampanye, baik sebagai alat (Tool Media) maupun saluran (Channel Media) untuk penyebaran pesan atau informasi kepada publik sebagai sasarannya melalui pemasangan poster, spanduk, plakat, umbul-umbul, selebaran (Flier), brosur, Press/New release, slide film, rekaman video, iklan, balon promosi, hingga mengadakan kerja sama dengan pihak media pers. Konsekuensinya adalah, pada akhirnya kegiatan kampanye tersebut membutuhkan dana yang cukup banyak, dan hanya parpol yang berbasis masa besar lebih mampu menghimpun biaya jumlah besar untuk aktivitas kampanyenya. Para pemimpin atau para politisi lebih menekankan komunikasi politiknya melalui saluran media massa, baik media elektronik maupun cetak untuk melaksanakan kampanyenya. Tentu saja, kekuatan media harus dimanfaatkan secara optimal dengan cara-cara dan tujuan yang fair. Namun, yang terjadi belakangan ini adalah para penggerak partai menggunakan media massa dengan cara ‘membeli’-nya atau memanipulasi informasi. Karena, pengelola media biasanya adalah mereka yang mau menjunjung tinggi idealisme dan sering bersikap kritis.

Hal tersebut tidak akan terjadi apabila pengurus parpol menerapkan pendekatan Marketing dan Public Relations yang dalam perkembangannya menjadi integrated marketing communication. Beberapa parpol dapat merekrut pakar Marketing dan atau Public Relations untuk duduk sebagai pengurus. Bahkan ada parpol yang memanfaatkan perusahaan jasa Public Relations saat menghadapi pemilu untuk turut merencanakan siapa bicara di mana dan siapa bicara kapan, serta apa materi atau pesan yang perlu ditekankan dan dijadikan topik saat berkampanye di tempat, pada waktu, dan di depan publik tertentu.

Secara umum pendekatan tersebut dapat terlaksana secara optimal. Karena banyak momen yang bisa dimanfaatkan, misalnya kegiatan silaturahmi dan melakukan kegiatan bersama rakyat pemilihnya, open house, penciptaan rekor prestasi, berusaha memanfaatkan event yang ada, atau secara proaktif berprakarsa menciptakan event sebagai ajang berkomunikasi secara timbal-balik dan berkesinambungan. Momen lain, melakukan kegiatan press relations dan community relations, termasuk dalam upaya membangun opini publik yang mampu mengangkat derajat citra positif diri dan parpolnya. Karena pada dasarnya citra dapat menunjukan bagaimana stimulus yang berasal dari luar diorganisasikan dan mempengaruhi respons.

Aktivitas seperti itu bisa ditempatkan sebagai bagian investasi partai tersebut dalam menghadapi pilkada atau pemilu berikutnya. Berawal dari langkah strategis itu, pengurus, fungsionaris parpol, bakal kandidat, dan kandidat, harus rajin tampil di forum seminar, di depan kelompok studi, dengan pandangan jernih, konseptual, visioner, aspiratif, dan komunikatif, serta dekat dengan aspirasi rakyat yang sedang berkembang. Mereka pun harus rajin mendatangi pertemuan-pertemuan informal. Mereka harus memanfaatkan tiap event dan mampu menciptakan event yang dapat dimanfaatkan sebagai ajang menjalin komunikasi timbal-balik dengan berbagai lapisan masyarakat, secara kreatif dan produktif.

Tidak hanya menjadikan media massa sebagai alat untuk menarik simpati, karena sesungguhnya citra positif dari tubuh parpol juga sangat penting untuk menimbulkan opini positif publik.

Tapi terlepas dari apa pun skenario penggalangan massa yang dipakai partai-partai peserta Pemilu 2009 nanti, satu hal yang semestinya tak dilupakan oleh pemimpin parpol adalah bagaimana mengemas semua misi, visi dan janji-janji menjadi sesuatu yang memikat masyarakat. Karena tujuan-tujuan yang ada dalam visi misi organisasi tersebut dapat menjadi pedoman, sumber motivasi, dan dasar rasional pengorganisasian. Oleh karena itu, parpol perlu memahami filosofi dan paradigma baru Public Relations (PR) di mana prinsip utamanya adalah memadukan kepiawaian berkomunikasi secara efektif, dengan paparan kinerja yang meyakinkan. Dengan bantuan perusahaan Public Relations (PR) profesional, pimpinan partai bisa menyusun skenario strategis manajemen. Dengan kata lain, manajemen partai harus piawai mengelola organisasi, pintar menggulirkan isu positif, sekaligus tanggap menganalisis perkembangan apa pun yang terjadi di lapangan, serta cermat menempatkan positioning untuk melakukan komunikasi yang efektif, dan fungsi PR dapat semakin diakui sebagai unsur penting dalam pemerintahan dan komunikasi efektif.

Tapi setidaknya, kita bisa berharap pada partai-partai yang menempatkan prinsip-prinsip manajemen modern, dengan paradigma baru PR yang seperti itu lah yang bisa mengentaskan bangsa ini dari krisis multi dimensi yang berkepanjangan.


0 Responses to “Efektifitas Kinerja PR dalam kampanye Parpol di Media Massa”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3 other followers

January 2009
M T W T F S S
    Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

My twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.


%d bloggers like this: