16
Jan
09

SADISME HUMANI

“Sebuah tinjauan terhadap pengaruh media kriminal”

Manusia adalah mahluk Tuhan yang paling sempurna karena memiliki akal budi. Tapi ini seakan terpatahkan dengan maraknya tindakan sadis manusia. Sadisme dan kriminalitas benar-benar telah mencuri peradaban kita. Peristiwa penyerangan Desa Soya-Sirimau yang menewaskan 12 orang dan menyebabkan 12 orang lainnya luka-luka berat, kembali membuyarkan upaya-upaya penghentian kekerasan dan pewujudan perdamaian di Ambon. Peristiwa itu sekaligus menunjukkan masih kuatnya kekuatan jahat ”sadisme” di sana. Menurut Fromm, sadisme adalah sebagai patologi psiko-sosial yang sangat berbahaya terutama bila bukan lagi sekedar diidap oleh segelintir orang, melainkan telah mengendap dan mewabah menjadi suatu fakta sosial.

Sadisme berasal dari nama belakang seorang Prancis, Marquis de Sade, yang dalam tulisan-tulisannya banyak mengulas masalah kekerasan. Secara karakterologis, sadisme dapat didefinisikan sebagai kenikmatan yang diperoleh lewat upaya menyakiti, melecehkan, menghina dan menghancurkan pihak-pihak lain.

Secara umum biasanya kita menilai bahwa tindakan sadisme manusia didasari oleh beberapa motif, yaitu motif dendam dan juga motif ekonomi. Namun, pada kenyataannya tindakan sadisme manusia dapat termotifasi oleh beberapa sebab, beberapa contohnya adalah:

• Pembantaian satu keluarga yang dilakukan oleh seorang tamu, disebabkan hanya karena tamu tersebut merasa tersinggung terhadap ucapan si tuan rumah

• Pembunuhan yang dilakukan seorang pemuda terhadap temannya, hanya karena berebut sebatang rokok

• Pemerkosaan oleh seorang pemuda terhadap nenek yang berusia 65 tahun, disebabkan karena si Pemuda tak terima di nasehati oleh sang nenek.

• Mutilasi yang berujung pada pembunuhan berantai oleh seorang pemuda yang disebabkan oleh kisah cinta sejenis yang terlarang (gay)

• Pertikaian antar warga yang hanya disebabkan oleh kerasnya menyetel volume televisi

• Pembunuhan berencana oleh kawanan mahasiswa terhadap teman kampusnya karena ingin merampas mobil korbannya

• Penipuan berkedok dukun pengganda uang yang berujung maut

• Dan lain-lain,

Banyaknya hal-hal kecil yang diantaranya dapat menimbulkan kematian terebut sudah cukup membuktikan bahwa pada saat ini, dengan sangat mudahnya manusia bertindak semaunya tanpa mempertimbangkan lagi hati nuraninya. Mereka dengan sangat mudah menyakiti dan menghabisi nyawa seseorang. Oleh karenanya, segala daya dan upaya harus segera dilakukan. Kita harus segera bertindak, akar permasalahan dari tindakan tersebut harus ditemukan secara tepat dan benar. Bila terlambat, negeri ini akan tumbuh menjadi daerah yang rawan bagi kesejahteraan umat manusia, anti peradaban, dan mengabaikan norma-norma yang diharapkan dapat menjadi panutan masyarakat.

Persoalannya adalah dari beberapa diskusi dan kajian-kajian, tayangan sadisme dan kriminalitas yang menjadi ‘tambang uang’ bagi stasiun televisi-televisi nasional, dianggap sebagai pemicu maraknya tindakan sadisme itu di tengah-tengah masyarakat. Kondisinya makin diperparah oleh hadirnya koran-koran lokal yang komoditas dagang utama adalah kriminalitas dan sadisme itu.

Di halaman depan surat kabar Jawa Pos edisi kemarin, terpampang berita-berita yang membuat buluk kuduk kita berdiri. Kita terenyuh karena kabar yang disampaikan, tidak sepatutnya terjadi di negeri ini. Negeri yang dikenal santun, berakhlak mulia, menganut norma-norma adat yang kebanyakan disandarkan pada tatanan Islam.

Laporan utamanya adalah kasus pembunuhan berantai yang terjadi di Jombang. Dimulai dari adanya penyidikan kasus mutilasi terhadap Heri Santoso, yang ditemukan terpotong menjadi tujuh bagian di Ragunan, Jakarta Selatan kemudian melebar ke Jombang, Jawa Timur. Bila kita rajin mencermati pemberitaan surat kabar yang bermoto ‘Selalu Ada Yang Baru’ ini, mungkin jarang sekali laporan pada halaman pertama didominasi oleh kasus-kasus kriminal dan sadisme.

Bukan hanya pada surat kabar harian saja berita-berita kriminal mengenai mutilasi tersaji. Di beberapa stasiun televisi swasta juga akhir-akhir ini banyak mengisahkan tentang maraknya kejadian-kejadian yang berujung maut. Tidak hanya pembunuhan yang berujung mutilasi, namun pembunuhan berencana yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorangpun sedang hangat dibicarakan. Selain pemerkosaan, pencabulan, penculikan, dan perampasan harta benda, pembunuhan yang akhirnya berujung ke pada tindakan mutilasi sudah semakin mendominasi pemberitaan kriminal di Indonesia. Bahkan berita tersebut sudah menjadi laporan utama di tiap-tiap pemberitaan di beberapa stasiun televisi swasta yang tentunya sudah menggeser pemberitaan korupsi dan pemilu.

Ada apakah ini sebenarnya? Mengapa dengan sangat mudah manusia membunuh sesamanya, dan dengan sangat mudah pula manusia-manusia tersebut bertindak sadis. Oleh karena itu saya tertarik untuk menulis tentang tindakan mutilasi ini, baik itu tentang penjabaran beberapa motif pelaku untuk bertindak tidak sesuai norma tersebut, maupun mengenai adanya keterkaitan media massa dalam proses tindakan asusila ini.


3 Responses to “SADISME HUMANI”


  1. January 17, 2009 at 3:24 am

    Hah….’

    Menarik nafaws panjang..

  2. 3 Risca
    April 26, 2012 at 7:44 am

    Tindakan sadisme yg mewabah seolah tlh menjadi lifestyle di masyarakat. Sadisme adlh tindakan ceroboh yg menandakan bahwa pelakunya tdk berpikiran sehat & dewasa sbg manusia. . .
    -risca ngw-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3 other followers

January 2009
M T W T F S S
    Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

My twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.


%d bloggers like this: