14
Nov
11

gara-gara monyet..

Hari ini bukan untuk yang pertama kalinya saya mendengar kabar mengenai demonstrasi oleh pihak tertentu untuk menentang topeng monyet. Hal tersebut bermula ketika sekelompok warga negara asing dari sebuah organisasi menggelar unjuk rasa di ibu kota beberapa waktu yang lalu. Bukan tidak beralasan mereka berdemonstrasi, mereka menganggap bahwa topeng monyet hanya merupakan salah satu modus yang digunakan untuk mengemis di jalanan, belum lagi cara yang digunakan dalam melatih monyet-monyet tersebut dinilai tidak baik dan dianggap sebagai penyiksaan binatang.

Topeng monyet memang bukan sebagian dari budaya, karena topeng monyet hanya sebuah kesenian tradisional yang terkenal di berbagai daerah di Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, tetapi di beberapa negara seperti India, Pakistan, Thailand, Vietnam, China, Jepang, dan Korea topeng monyet banyak digemari oleh masyarakat. Topeng monyet menampilkan atraksi dari monyet yang didampingi oleh pawang dengan diiringi musik dari gendang kecil maupun radio tape, atraksi dari si monyet dinilai lucu oleh anak-anak, sehingga kumpulan anak-anak yang menonton atraksi topeng monyet menjadi keuntungan tersendiri bagi tukang topeng monyet.

Perdebatan mengenai larangan topeng monyet-pun semakin nampak, banyak yang pro tetapi tidak sedikit pula yang kontra. Saya sendiri menilai unjuk rasa yang dilakukan oleh warga asing tersebut tidak sepenuhnya salah, karena maksud mereka juga sebenarnya baik, yaitu mencintai sesama makhluk tuhan terlebih monyet merupakan hewan yang dilindungi. Memang tidak seharusnya para tukang topeng monyet mempertontonkan atraksi topeng monyet di pinggir jalan, sebab hal tersebut dapat menghambat lalu lintas di ibu kota yang seringkali macet. Mungkin saja dengan kehadiran topeng monyet, lalu lintas semakin tidak terkendali sehingga kemacetan semakin meningkat. Namun akan lebih baik lagi apabila sesama pengguna jalan lebih tertib menggunakan jalan umum dan lebih mematuhi rambu lalu lintas.
Mengenai anggapan bahwa dalam pelatihan topeng monyet ada unsur penyiksaan binatang, mungkin lebih arif apabila para tukang topeng monyet mendapatkan ilmu atau pengetahuan mengenai cara melatih hewan dengan teknik yang baik dan dinilai tidak menyiksa dari pawang-pawang binatang yang sudah ahli. Sebab, mau tidak mau pemerintah tidak bisa begitu saja di paksa untuk menghentikan topeng monyet atau membuat larangan topeng monyet.

Topeng monyet yang sudah dikenal luas oleh masyarakat kita ini merupakan salah satu bentuk mata pencaharian bagi sebagian orang di Indonesia. mereka mungkin tidak pernah bercita-cita untuk menjadi seorang tukang topeng monyet. Dalam sehari penghasilannya saja tidak tetap, jangankan untuk bermewah-mewah, untuk makan sehari-hari saja belum pasti. Terlebih biasanya monyet-monyet yang digunakan para tukang topeng monyet adalah monyet sewaan, jadi mereka juga harus menyetor uang yang mereka peroleh kepada pemilik monyet.
Manusia mana yang ingin hidup serba kekurangan, begitu pula para tukang topeng monyet. Keadaan yang menuntut mereka jadi tukang topeng monyet. Jika topeng monyet dilarang, mereka mau kerja apalagi? bukankah di Indonesia ini sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak? jangankan layak, yang tidak layak asal halal saja masih susah..
Sebaiknya perbaiki dulu urusan ketenaga kerjaan di negara kita ini, baru memikirkan persoalan lain termasuk penyiksaan binatang.


0 Responses to “gara-gara monyet..”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3 other followers

November 2011
M T W T F S S
« Jan    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

My twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.


%d bloggers like this: